Penyaluran Al Quran ke Pelosok, Ikhtiar Menyalurkan Cahaya Petunjuk di Pasir Angin, Sukabumi.

Author

Damai Aqsha

Jumat, 23 Januari 2026

78

Damai Aqsha – Al-Qur’an tidak pernah hadir semata sebagai teks suci yang dibaca dalam ritual. Ia adalah petunjuk hidup—hudan lin-naas—yang membentuk cara manusia berpikir, bersikap, dan memikul tanggung jawabnya di tengah masyarakat. Dari Al-Qur’an, manusia dapat menemukan nilai amanah, keadilan, kasih sayang, hingga kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Nilai-nilai itu tidak tumbuh dengan sendirinya; ia perlu dipelajari, dibaca, dan dihidupkan dalam keseharian.

Karena itulah, keberadaan Al-Qur’an yang dapat diakses dengan layak menjadi fondasi penting dalam pembentukan nilai. Mushaf yang terbaca jelas, utuh, dan terawat bukan sekadar sarana ibadah, melainkan pintu masuk pendidikan karakter. Tanpa akses yang memadai, proses pewarisan nilai itu berjalan tertatih—bahkan bisa terhenti sama sekali.

Persoalan ini masih menjadi tantangan nyata di banyak wilayah. Data tentang buta huruf Al-Qur’an di Indonesia menunjukkan, kemampuan membaca Al-Qur’an belum merata, terutama di daerah-daerah dengan keterbatasan akses pendidikan keagamaan. Faktor geografis, kondisi ekonomi, hingga minimnya sarana belajar menjadi penyebab yang saling berkait. Ini bukan semata soal kemauan individu, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan perhatian bersama.

Ketimpangan akses inilah yang pada akhirnya berdampak pada pembentukan nilai. Ketika Al-Qur’an sulit dijangkau—baik karena jumlahnya terbatas maupun kondisinya tidak lagi layak dibaca—maka ruang belajar ikut menyempit. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa kehilangan kesempatan yang sama untuk berinteraksi dengan sumber nilai yang seharusnya dekat dengan kehidupan mereka.

Kondisi tersebut juga ditemukan di Kampung Pasir Angin, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di wilayah ini, Al-Qur’an bukan sesuatu yang sepenuhnya mudah diakses dalam kondisi baik. Mushaf yang ada terbatas jumlahnya, sebagian sudah usang, dan tidak semuanya layak digunakan untuk proses belajar yang optimal. Situasi ini tentu memengaruhi upaya warga dalam mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an secara berkelanjutan.

Padahal, bagi masyarakat di pelosok, Al-Qur’an kerap menjadi sumber pembelajaran utama dalam membangun pemahaman keagamaan dan nilai kehidupan. Ketika sarana dasarnya terbatas, proses itu menjadi tidak seimbang. Bukan karena kurangnya niat, melainkan karena keterbatasan alat.

Berangkat dari realitas tersebut, penyaluran donasi Al-Qur’an menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan keadilan akses. Kami melaksanakan program ini sebagai bentuk upaya memastikan sumber nilai dapat dijangkau secara layak oleh mereka yang membutuhkan. Al-Qur’an yang dibagikan adalah Al-Qur’an yang siap dibaca, dipelajari, dan diajarkan kembali.

Dalil-dalil tentang keutamaan Al-Qur’an sering menyebut bahwa setiap huruf yang dibaca bernilai kebaikan. Namun, makna terdalamnya tidak berhenti pada pahala personal. Ketika Al-Qur’an dibaca, dipahami, dan diamalkan, nilai-nilainya hidup dan memberi dampak sosial. Di sanalah letak makna amal jariyah: kebaikan yang terus mengalir karena nilai yang ditanamkan terus bekerja dalam kehidupan orang lain.

Penting untuk ditegaskan bahwa keterlibatan dalam program penyebaran Al-Qur’an merupakan salah satu wujud tanggung jawab moral. Tanggung jawab untuk menjaga agar sumber nilai tetap hadir dan dapat diakses secara adil. Pahala adalah konsekuensi dari niat baik, bukan alat promosi.

Ketika akses terhadap Al-Qur’an diperluas, peluang pembentukan karakter yang berakar pada nilai juga semakin terbuka. Masyarakat tidak hanya diajak membaca, tetapi juga memahami dan menghidupkan pesan-pesan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Dari situlah lahir kesadaran sosial, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

Upaya pemberantasan kelangkaan dan buta huruf Al-Qur’an pada akhirnya adalah kerja kolektif. Ia mengajak siapa pun untuk terlibat secara sadar: menjaga sumber nilai, memperluas akses, dan memastikan bahwa petunjuk hidup itu tidak terhenti hanya karena keterbatasan sarana. Karena ketika Al-Qur’an hadir secara layak, nilai-nilainya pun punya ruang untuk tumbuh dan membimbing kehidupan bersama.

Tags
#Qur'an
Komentar 0

Silakan login untuk memberikan komentar.

Belum punya akun? Daftar sekarang

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!